HMI Cabang Makassar Gelar Diskusi Publik Bahas Krisis Sampah Plastik Perkotaan

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Makassar Gelar Diskusi Publik Bahas Krisis Sampah Plastik Perkotaan (Dok. Istimewa)

MAKASSAR, PENA KEBENARAN - Bidang Kajian Strategis dan Studi Wacana (Kastrawacana) Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Makassar telah menggelar diskusi publik bertajuk “Makassar dalam Cengkeraman Plastik: Krisis Ekologi dan Ancaman Masa Depan Kota.” Yang berlangsung secara daring. Senin (16/2/2026).

Diskusi Publik tersebut menjadi ruang dialog terbuka untuk mengkaji persoalan pencemaran plastik dan dampaknya terhadap keberlanjutan lingkungan perkotaan.

Diskusi dibuka oleh Akbar Pelayati, Ketua Bidang Kastrawacana sekaligus keynote speaker, yang menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam merespons persoalan ekologis.

“Krisis sampah plastik bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi menyangkut masa depan kota dan kualitas hidup masyarakat. Ruang diskusi mahasiswa harus mampu melahirkan kesadaran kritis sekaligus gagasan strategis dalam merespons persoalan tersebut,” ujarnya.

Salah satu narasumber, Nofensius Moa Ngadu, Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Makassar, menilai persoalan sampah plastik tidak dapat dipandang sebagai isu kebersihan semata.

“Pencemaran plastik yang merusak laut, menyumbat drainase, hingga memperparah banjir menunjukkan ketidakseimbangan relasi manusia dan alam akibat pola konsumsi yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan perspektif moral-ekologis sebagaimana tertuang dalam ajaran Pope Francis melalui ensiklik Laudato Si’. Menurutnya, krisis sampah plastik merupakan bagian dari krisis ekologis global yang berakar pada budaya buang dan eksploitasi berlebihan terhadap alam.

Ia mendorong langkah konkret berupa penanaman pohon, edukasi pengurangan penggunaan plastik rumah tangga, aksi bersih lingkungan di wilayah pesisir, serta pengolahan limbah plastik menjadi produk kreatif sebagai pendekatan edukatif sekaligus produktif.

Sementara itu, narasumber kedua Wawan Tri Sanjaya, Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) HmI Cabang Makassar, menjelaskan bahwa plastik merupakan material polimer berbasis rantai karbon panjang yang ringan, kuat, fleksibel, dan ekonomis sehingga digunakan luas di berbagai sektor industri. Namun, daya tahannya juga menyebabkan limbah plastik sulit terurai dan menjadi ancaman lingkungan jangka panjang.

Ia memaparkan bahwa data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 64–67 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 7,6–10 juta ton di antaranya berupa plastik.

 “Sekitar 3,2 juta ton sampah plastik masuk ke laut, dan plastik membutuhkan waktu 10 hingga lebih dari 1.000 tahun untuk terurai. Plastik tidak hilang, tetapi berubah menjadi mikroplastik yang mencemari tanah, air, dan rantai makanan,” jelasnya.

Menurutnya, dampak limbah plastik meliputi kerusakan ekosistem laut, pencemaran tanah, gangguan kesehatan akibat pembakaran sampah, hingga potensi banjir akibat saluran tersumbat. Ia menilai pengelolaan limbah plastik harus dilakukan secara terpadu melalui kesadaran masyarakat, penyediaan fasilitas, dan kebijakan pemerintah.

“Pengolahan plastik menjadi energi listrik, bahan bakar, maupun material konstruksi dapat menjadi solusi strategis, tetapi keberhasilannya bergantung pada sinergi antara kebijakan, fasilitas, dan kesadaran masyarakat,” tambahnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan keterlibatan aktif peserta dalam sesi dialog terbuka. Forum tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan yang menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dalam mendorong kesadaran ekologis.

Melalui terselenggaranya kegiatan ini, HmI Cabang Makassar berharap diskursus yang berkembang tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi mampu mendorong langkah nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kesadaran kolektif yang lahir dari ruang dialog tersebut diharapkan menjadi kontribusi bagi upaya menghadapi krisis ekologi perkotaan di masa depan.

 (*)

Lebih baru Lebih lama