Lafran Pane: Dari Ruang Kelas STI hingga Menjadi Pahlawan Nasional dan Pendiri HMI

Lafran Pane. wikipedia.com 

PENA KEBENARAN - Semua kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tentu akrab dengan nama Lafran Pane. Sosok ini bukan sekadar pendiri organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia, melainkan juga seorang pemikir dan pejuang yang jejak hidupnya menyatu dengan dinamika awal kemerdekaan Republik Indonesia. Kiprahnya yang panjang dalam pergerakan pemuda hingga dunia intelektual menjadikan namanya dikenang lintas generasi.

Lahir di Padang Sidempuan, Sumatera Utara, pada 5 Februari 1922, Lafran tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sarat dengan tradisi intelektual dan aktivisme. Ia dibesarkan dalam atmosfer diskusi, tulisan, dan gagasan pembaruan yang kuat. Latar belakang keluarga inilah yang membentuk watak kritis sekaligus religius dalam dirinya sejak usia muda.

Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, dikenal sebagai jurnalis, sastrawan, serta pendiri surat kabar Sipirok-Pardomuan. Ia juga tercatat sebagai tokoh yang mendirikan cabang Muhammadiyah di Sipirok pada 1921. Dari sang ayah, Lafran mewarisi semangat keislaman yang berpadu dengan kesadaran kebangsaan.

Tak hanya itu, dua kakaknya—Sanusi Pane dan Armijn Pane—merupakan sastrawan besar dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Tradisi literasi yang kuat dalam keluarga Pane menjadikan Lafran akrab dengan dunia pemikiran sejak dini, meskipun jalannya kelak lebih banyak ditempa dalam organisasi dan pergerakan.

Pendidikan awal Lafran ditempuh di Pesantren Muhammadiyah Sipirok. Namun, perjalanan akademiknya tidak berlangsung linear. Ia beberapa kali berpindah sekolah hingga tingkat menengah, sebuah dinamika yang justru memperkaya pengalaman sosial dan intelektualnya. Pada akhirnya, ia melanjutkan pendidikan di HIS Muhammadiyah sebelum meneruskan ke Sekolah Tinggi Islam (STI) di Yogyakarta.

Momentum paling bersejarah dalam hidup Lafran terjadi pada 5 Februari 1947 di Gedung STI, yang kini dikenal sebagai Universitas Islam Indonesia. Di ruang kelas yang beralamat di Jalan Pangeran Senopati 30, ia meminta izin kepada dosen pengajar Tafsir, Husein Yahya, untuk menggunakan waktu kuliah sebagai forum rapat mahasiswa. Dari forum sederhana itulah lahir sebuah organisasi yang kelak berpengaruh besar dalam perjalanan bangsa.

Dalam rapat tersebut, Lafran tidak sendiri. Ia bersama 14 mahasiswa lainnya bersepakat mendirikan HMI sebagai wadah perjuangan mahasiswa Islam. Keputusan itu lahir dari kegelisahan atas kondisi bangsa yang baru merdeka sekaligus kebutuhan akan organisasi mahasiswa yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Gagasan Lafran begitu dominan dalam perumusan tujuan organisasi. Ia merumuskan arah perjuangan HMI dengan kalimat yang tegas: mempertahankan Negara Republik Indonesia, mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Rumusan ini mencerminkan sintesis antara nasionalisme dan keislaman yang menjadi ciri khas HMI hingga kini.

Tahun-tahun awal berdirinya HMI hampir identik dengan perjalanan pribadi Lafran. Ia bukan hanya pendiri di atas kertas, melainkan motor penggerak yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengokohkan fondasi organisasi. HMI pada masa itu hadir sebagai respons atas tantangan ideologis dan politik yang mengitari republik muda.

Sebelum mendirikan HMI, Lafran sempat aktif dalam Persyarikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY). Namun, ia merasa organisasi tersebut belum memiliki pijakan keislaman yang kuat. Ketidakcocokan itu mendorongnya mengambil langkah berani: keluar dan membangun organisasi baru yang diyakininya mampu menjawab kebutuhan zaman.

Perjalanan perjuangannya bahkan telah dimulai jauh sebelum HMI berdiri. Saat masa-masa genting menjelang proklamasi, Lafran muda ikut terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok bersama para pemuda yang mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Pengalaman itu mempertegas komitmennya pada kemerdekaan Indonesia.

Ketika ibu kota republik berpindah ke Yogyakarta, Lafran turut hijrah dan melanjutkan studinya di STI. Pada April 1948, sebelum menyelesaikan pendidikan di sana, ia pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP), yang kemudian menjadi bagian dari Universitas Gadjah Mada. Di lingkungan akademik inilah pemikirannya semakin terasah dalam bidang politik dan ketatanegaraan.

Pengakuan negara atas jasanya datang puluhan tahun kemudian. Pada 6 November 2017, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2017. Gelar tersebut menjadi simbol penghormatan atas dedikasi panjangnya dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun kesadaran intelektual umat.

Selain dikenal sebagai organisator ulung, Lafran juga produktif menulis. Ia menghasilkan berbagai artikel yang membahas persoalan konstitusi, kedudukan presiden, wewenang MPR, hingga gagasan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. Tulisan-tulisannya menunjukkan perhatian besar terhadap tata negara dan arah perjalanan demokrasi Indonesia.

Pada akhirnya, Lafran Pane bukan hanya figur historis dalam tubuh HMI, melainkan representasi generasi perintis yang memadukan iman, ilmu, dan perjuangan. Warisan pemikirannya tetap relevan, terutama dalam konteks menjaga keseimbangan antara komitmen keislaman dan kesetiaan pada Republik Indonesia. Dari ruang kelas sederhana di Yogyakarta, gagasannya menjelma menjadi gerakan besar yang terus hidup hingga hari ini.

Lebih baru Lebih lama