PENA KEBENARAN - Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) mewarisi satu identitas penting sekaligus berat: watak kritis. Sejak kelahirannya, MPO menempatkan diri sebagai koreksi terhadap kemapanan, sebagai penanda bahwa HMI tidak boleh tunduk pada kekuasaan, kooptasi, dan pembekuan nalar. Namun justru karena identitas kritis itulah, kaderisasi HMI MPO hari ini patut dikritik—bukan untuk dilemahkan, melainkan untuk diselamatkan dari pengulangan yang tak disadari.
HMI, dalam semua variannya, memang memiliki satu keistimewaan: ia tinggal lama di kepala kadernya. Ia membentuk cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara berkonflik. Pada HMI MPO, daya tinggal ini sering kali lebih kuat karena dibungkus oleh narasi perlawanan dan puritanisme nilai. Persoalannya, apakah kaderisasi MPO hari ini masih melahirkan kader kritis, atau justru melahirkan kader yang sekadar piawai mengutip kritik lama?
Lafran Pane mendirikan HMI dari kegelisahan atas masa depan kaum terpelajar Muslim yang kehilangan arah keislaman dan kebangsaannya. Semangat itu sejatinya selaras dengan spirit MPO: menjaga independensi, keberanian moral, dan keberpihakan pada umat dan bangsa. Tetapi semangat tidak cukup diwariskan melalui slogan; ia harus hidup dalam metode kaderisasi yang relevan dengan zamannya.
Di banyak ruang kaderisasi HMI MPO hari ini, militansi masih kerap diukur dari kerasnya forum, tegasnya pemateri, atau seberapa jauh kader “tahan digempur”. Forum keras memang memiliki nilai pedagogis, tetapi ketika ia berubah menjadi tujuan, bukan metode, maka kaderisasi kehilangan orientasi intelektualnya. Yang lahir bukan kader kritis, melainkan kader defensif—terampil bertahan, tetapi gagap memperbarui gagasan.
Problem pertama kaderisasi HMI MPO kontemporer adalah romantisisme kritisisme. Kritik sering diwariskan sebagai narasi heroik masa lalu—tentang perlawanan, penyelamatan organisasi, dan keberanian sikap—tanpa diiringi pembacaan konteks mutakhir. Akibatnya, kader diajari untuk curiga, tetapi tidak cukup diperlengkapi untuk menganalisis. Skeptis, tapi tidak metodologis.
Problem kedua adalah kecenderungan menjadikan kekerasan simbolik sebagai laku ideologis. Teguran keras, pengusiran forum, atau pembatasan berbicara kerap dibenarkan atas nama disiplin organisasi dan kemurnian nilai. Dalam konteks MPO, praktik ini berbahaya: ia bisa menggerus semangat emansipasi internal dan melahirkan otoritarianisme kecil di dalam organisasi yang justru lahir untuk melawan otoritarianisme.
Problem ketiga adalah stagnasi diskursus. HMI MPO kerap dibanggakan sebagai ruang intelektual alternatif, tetapi dalam praktiknya, modul dan referensi kaderisasi jarang diperbarui secara serius. Isu-isu kontemporer—kapitalisme digital, krisis ekologis, perubahan lanskap keislaman, hingga transformasi politik global—sering hadir sebagai tempelan, bukan sebagai medan analisis utama. Kritik menjadi retorika, bukan kerja intelektual. Padahal kekuatan utama MPO seharusnya terletak pada keberanian membongkar ulang kerangka berpikirnya sendiri.
Kaderisasi HMI MPO perlu bergeser dari sekadar “mewarisi sikap kritis” menuju “melatih kerja kritik”. Ini berarti mengubah forum keras menjadi forum argumentatif; menggeser peran pemateri dari otoritas ideologis menjadi fasilitator dialektika; serta membuka ruang aman bagi perbedaan pendapat tanpa stigma pengkhianatan nilai.
Tanpa pembaruan metodologis, HMI MPO berisiko terjebak dalam paradoks: mengkritik kemapanan di luar, tetapi memelihara kemapanan di dalam. Mengusung pembebasan, tetapi lalai membebaskan kader dari ketakutan untuk berpikir berbeda.
HMI MPO tidak pernah benar-benar pergi dari kepala karena ia menanamkan cara memandang dunia dengan curiga, kritis, dan berjarak pada kekuasaan. Namun justru karena itu, MPO memikul tanggung jawab moral yang lebih besar: memastikan bahwa kaderisasi tidak membekukan kritik menjadi dogma baru.
Jika MPO berani mengkritik metode kaderisasinya sendiri, ia akan tetap menjadi ruang pembaruan.
Jika tidak, ia hanya akan hidup sebagai ingatan perlawanan—keras, lantang, tetapi pelan-pelan kehilangan arah.
Author: Ahmad Abdul Basyir
(Merupakan Seorang Kader Biasa)
Tags:
Artikel HMI
