Keyakinan Muslim dan Makna Tauhid dalam Kehidupan

Ilustrasi hitam putih ini menampilkan Tauhid sebagai pusat kehidupan: Ka’bah dan syahadat di tengah, dikelilingi ilmu, ibadah, keluarga, keadilan, alam, dan akhirat yang saling terhubung.

 PENA KEBENARAN - Keyakinan merupakan dasar utama dalam kehidupan manusia. Setiap tindakan, sikap, dan cara pandang seseorang sangat dipengaruhi oleh keyakinan yang ia anut. Secara fitrah, manusia menyadari bahwa dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan serta bimbingan dari sesuatu yang Maha Kuasa. Karena itu, manusia memerlukan sistem keyakinan yang dapat menjadi pegangan hidup.

Dalam kehidupan manusia, terdapat berbagai sistem keyakinan. Salah satunya adalah sistem keyakinan yang didasarkan pada kebenaran ilmiah. Kebenaran ini diukur melalui pengalaman dan pengamatan inderawi. Namun, kebenaran ilmiah memiliki keterbatasan karena tidak mampu menjelaskan hal-hal metafisik, seperti keberadaan Tuhan. Selain itu, teori ilmiah selalu bersifat sementara dan mengandung kemungkinan salah.

Sistem keyakinan lainnya adalah keyakinan yang bersifat literal dan dogmatis. Sistem ini menuntut penerimaan ajaran secara mutlak tanpa melibatkan akal secara kritis. Akibatnya, manusia dapat terjebak pada sikap pasif dan sulit menghadapi perkembangan zaman. Keyakinan yang hanya didasarkan pada tradisi turun-temurun tanpa pemahaman yang benar juga berpotensi menjauhkan manusia dari petunjuk Tuhan.

Islam menawarkan sistem keyakinan yang berbeda, yaitu Tauhid. Tauhid mengajarkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sumber dari segala sebab. Dalam Tauhid, manusia tidak diminta untuk menanggalkan akalnya, tetapi justru menggunakan akal sebagai sarana untuk mengenali dan memahami kebenaran secara sadar dan bertanggung jawab.

Selain akal, Islam juga menempatkan wahyu sebagai sumber utama kebenaran. Melalui wahyu, Allah SWT menjelaskan diri-Nya dan memberikan petunjuk hidup kepada manusia. Wahyu tersebut disampaikan melalui para nabi dan rasul, yang puncaknya adalah Nabi Muhammad SAW. Ajaran Tauhid yang dibawa para nabi bersifat universal dan berlaku bagi seluruh umat manusia.

Inti ajaran Tauhid dalam Islam dirumuskan dalam dua kalimat syahadat. Syahadat bukan hanya pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan dan Muhammad adalah rasul-Nya, tetapi juga mengandung tuntutan ketundukan dan kepatuhan penuh kepada perintah Allah. Pengakuan tanpa ketundukan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan ketidaksempurnaan Tauhid seseorang.

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia dan berlaku sepanjang masa. Di dalamnya terkandung ajaran tentang keimanan, ibadah, akhlak, serta aturan kehidupan sosial. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan serta sebagai penyempurna kitab-kitab suci sebelumnya.

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam semesta. Al-Qur’an menjelaskan bahwa alam diciptakan oleh Allah dalam keadaan seimbang dan teratur. Manusia diberi amanah untuk mengelola dan memanfaatkan alam dengan bijak, bukan merusaknya demi kepentingan sesaat.

Dalam ajaran Islam, setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Pada hari kiamat, seluruh amal perbuatan manusia akan dihisab dan ditimbang, kemudian dibalas dengan surga atau neraka sesuai dengan perbuatannya.

Dengan demikian, Tauhid menjadi fondasi utama dalam membentuk cara pandang Muslim terhadap kehidupan. Tauhid menjiwai pemahaman tentang ilmu pengetahuan, kemanusiaan, sosial, alam semesta, dan kehidupan akhirat. Melalui Tauhid, Islam hadir sebagai ajaran yang menyeluruh dan membimbing manusia menuju kehidupan yang bermakna di dunia dan akhirat.

Lebih baru Lebih lama