Hari Kemudian: Orientasi Akherat sebagai Fondasi Kesadaran Perjuangan Manusia

Gambar ini memvisualisasikan Yaumul Hisab atau hari perhitungan. Timbangan raksasa melambangkan keadilan mutlak Allah atas amal manusia. Terlihat kontras antara mereka yang tenang menuju cahaya (surga) dan mereka yang diliputi penyesalan di dekat jurang api (neraka). Ini adalah pengingat bahwa setiap pilihan di dunia memiliki konsekuensi abadi yang tidak bisa dimanipulasi.

PENA KEBENARAN - Al-Qur’an secara tegas memperingatkan manusia agar senantiasa berpikir sebelum bertindak, agar tidak terjerumus pada penyesalan di hari kemudian. Peringatan ini tidak hanya disampaikan melalui ancaman, tetapi juga diiringi dengan kabar gembira berupa janji-janji imbalan. Gambaran tentang hari kebangkitan, hari pembalasan, surga dan neraka diungkapkan secara gamblang agar manusia menyadari satu hal mendasar: setiap perbuatan yang dilakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Namun, seluruh janji dan ancaman itu bukanlah untuk menakut-nakuti manusia atau menjadikannya sekadar pemburu pahala, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi di hari kemudian.

Hari kemudian atau akherat merupakan fase pengadilan universal bagi seluruh umat manusia. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari proses hisab. Seluruh amal perbuatan selama hidup di dunia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, akan diperhitungkan secara adil. Hasil hisab inilah yang menjadi dasar penentuan nasib manusia di kehidupan akherat kelak. Tidak ada perbuatan sekecil apa pun yang terlewat, dan tidak ada satu perhitungan pun yang tanpa balasan. Masa pengadilan ini tidak dapat dihindari oleh siapa pun, dan keadilan yang ditegakkan Allah SWT pada saat itu adalah keadilan mutlak yang tidak bisa dikompromikan sebagaimana keadilan duniawi yang sarat kepentingan.

Keberadaan kehidupan akherat sebagai kehidupan “pasca sejarah” kemanusiaan menjadi sangat logis dan adil, mengingat keadilan sering kali gagal terwujud secara sempurna di dunia. Realitas sosial menunjukkan bahwa begitu banyak manusia yang hidup dalam penindasan, sementara para pelaku kezaliman tidak selalu mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan, tidak jarang orang-orang yang berbuat kebathilan justru memperoleh legitimasi, kekuasaan, dan ketenaran dalam catatan sejarah dunia. Dalam konteks inilah akherat menjadi ruang penyempurnaan keadilan Ilahi.

Islam sangat menekankan keyakinan terhadap keberadaan akherat, karena keyakinan ini membentuk orientasi hidup manusia. Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di akherat, sementara kehidupan dunia hanyalah sementara, diibaratkan sebagai permainan dan sesuatu yang rendah tingkatannya. Meski demikian, dunia tetap menjadi medan ujian yang harus dilalui manusia secara sadar dan bertanggung jawab. Setiap cobaan, penderitaan, dan kenikmatan di dunia merupakan bagian dari mekanisme penilaian yang menentukan kehidupan akherat. Oleh karena itu, manusia tidak dibenarkan berputus asa menghadapi beratnya kehidupan dunia, sebab sikap putus asa mencerminkan pengingkaran terhadap janji Allah dan ketetapan-Nya bahwa manusia tidak dibebani melampaui kemampuannya.

Konsekuensinya, kehidupan dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan atau diingkari. Islam tidak mengajarkan asketisme ekstrem yang memusuhi dunia. Manusia justru diperintahkan untuk berusaha, bekerja, dan meraih kebahagiaan duniawi sepanjang berada dalam koridor nilai-nilai Islam. Kebahagiaan yang dimaksud bukan kebahagiaan materialistik semata, melainkan kebahagiaan yang selaras dengan tujuan akherat. Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan kecintaan kepada keluarga, keseimbangan hidup, dan pemenuhan kebutuhan manusiawi sebagai bagian dari kehidupan yang diridhai Allah.

Islam mengajarkan keharmonisan yang dinamis antara kehidupan dunia dan akherat, dengan akherat tetap sebagai tujuan akhir. Dalam perjalanan hidup, orang-orang beriman bisa merasakan keamanan dan kesejahteraan, namun di waktu lain harus menanggung pahit getir perjuangan melawan kezaliman yang mendominasi masyarakat. Keberhasilan dan kegagalan merupakan dua sisi yang tak terpisahkan dari kehidupan. Karena itu, manusia dituntut untuk selalu siap berkorban, baik dengan harta maupun dengan jiwa. Pengorbanan yang dilakukan di dunia sejatinya tidak sebanding dengan rahmat dan balasan yang dijanjikan Allah SWT di akherat yang bersifat kekal.

Kesadaran akan akherat juga menuntut ketabahan dan kesabaran. Waktu kehidupan dunia yang singkat menjadi sangat kecil nilainya dibandingkan dengan kehidupan akherat yang abadi. Akherat akan diawali dengan datangnya hari akhir, hari kiamat, yang menandai berakhirnya seluruh kehidupan dunia dan tertutupnya pintu taubat. Pada saat itu, tidak ada lagi amal yang dicatat, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri. Manusia akan diliputi kepanikan, kebingungan, dan penyesalan ketika menyadari kebenaran janji-janji Allah yang selama ini diingkari.

Al-Qur’an menjadikan gambaran hari kiamat sebagai referensi dasar dalam membangun orientasi hidup manusia. Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, tanpa paksaan, namun setiap pilihan membawa konsekuensi yang setimpal. Di hari kemudian, seluruh manusia akan dibangkitkan untuk menanti hisab. Tidak ada perbedaan status, kekuasaan, atau kemuliaan sosial. Yang membedakan hanyalah kualitas amal. Wajah manusia pada hari itu mencerminkan apa yang telah ia perbuat selama hidupnya di dunia.

Secara imajinatif sekaligus teologis, hari pembalasan menjadi ruang penyelesaian tuntas atas konflik dan ketidakadilan antar manusia. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, tidak ada manipulasi kebenaran. Lidah, tangan, dan kaki akan menjadi saksi atas apa yang pernah dilakukan. Sebagian manusia akan menyesal dan memohon agar diberi kesempatan kembali ke dunia, namun penyesalan itu tidak lagi berguna. Sebaliknya, sebagian manusia lain menyambut hari tersebut dengan sukacita, karena hari itu adalah hari pertemuan dengan Allah SWT, pertemuan paling agung dan paling bernilai dalam eksistensi manusia.

Mereka yang bersuka cita itulah orang-orang yang ikhlas, yang menjalani kehidupan bukan semata demi imbalan dunia atau bahkan surga, melainkan demi keridhaan dan perjumpaan dengan Sang Khalik. Bagi mereka, hari kemudian bukan ancaman, melainkan kepastian yang ditunggu dengan penuh ketenangan dan keyakinan.


Lebih baru Lebih lama