PENA KEBENARAN - Perubahan tatanan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam bukanlah janji instan yang turun tanpa usaha. Islam menempatkan manusia sebagai subjek utama perubahan, bukan sekadar objek sejarah. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia diberi mandat untuk mengatur, mengelola, dan membentuk tatanan kehidupan sosial yang diridhai Allah SWT melalui keterlibatan aktif dan kesadaran penuh akan tanggung jawabnya.
Peran kekhalifahan ini menuntut manusia untuk tidak bersikap pasif terhadap realitas sosial. Perubahan tidak akan lahir dari sikap diam atau penyerahan diri pada keadaan. Sebaliknya, manusia dituntut untuk berusaha dan berjuang secara sungguh-sungguh demi terwujudnya tatanan masyarakat yang adil, bermoral, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Dari sinilah etos perjuangan menjadi elemen fundamental dalam kehidupan seorang muslim.
Etos perjuangan merupakan bekal utama dalam proses perbaikan masyarakat yang tidak pernah berhenti. Lingkungan sosial bersifat dinamis dan senantiasa berubah, sehingga tidak ada titik ideal yang statis. Oleh karena itu, seorang muslim yang memiliki etos perjuangan akan selalu peka terhadap realitas di sekitarnya, serta terdorong untuk terus melakukan pembaruan dan perbaikan tanpa henti, di setiap ruang dan waktu.
Islam tidak mengenal konsep kemapanan absolut. Tatanan masyarakat yang dibangun atas nilai-nilai Islam pun tidak pernah mencapai kesempurnaan final sepanjang sejarah. Kesadaran inilah yang melahirkan tanggung jawab kolektif setiap muslim untuk terus menegakkan kebenaran dan melawan ketimpangan, sejak ia hadir dalam kehidupan hingga akhir hayatnya. Perjuangan menjadi denyut kehidupan seorang muslim.
Dalam perspektif Islam, etos perjuangan juga mencerminkan kualitas iman. Iman tidak semata diukur melalui ritual individual seperti shalat, puasa, zakat, atau haji, tetapi juga melalui konsistensi dan keteguhan seseorang dalam memperjuangkan kebenaran dan kemaslahatan umat. Keistiqomahan dalam perjuangan menjadi indikator kemuliaan iman, karena menunjukkan keyakinan yang hidup dan terimplementasi dalam realitas sosial.
Perjuangan sejati lahir dari pilihan sadar, bukan dari paksaan eksternal. Pilihan sadar ini mensyaratkan dua hal utama, yaitu kehendak pribadi dan keterlibatan langsung. Tanpa kehendak yang lahir dari kesadaran iman dan tanpa partisipasi nyata dalam proses perjuangan, klaim perjuangan kehilangan maknanya. Islam menolak perjuangan simbolik yang hampa dari keterlibatan konkret.
Kesadaran perjuangan juga menuntut kesiapan menghadapi risiko dan konsekuensi. Seorang muslim tidak berjuang secara membabi buta, melainkan dengan perhitungan yang matang atas tantangan, kegagalan, dan keberhasilan. Sikap ini membentuk kepribadian yang stabil, tidak larut dalam euforia keberhasilan dan tidak hancur oleh kegagalan. Kedua ekstrem tersebut justru dapat menghentikan proses perjuangan.
Dalam etos perjuangan Islam, keberhasilan bukanlah ukuran kemuliaan iman, dan kegagalan bukan pula tanda kehinaan. Yang menjadi tolok ukur utama adalah istiqomah. Istiqomah menandakan keteguhan iman yang tidak bergantung pada hasil jangka pendek, melainkan pada komitmen jangka panjang dalam menegakkan kebenaran. Perjuangan dipahami sebagai proses berkelanjutan, bukan tujuan sesaat.
Puncak etos perjuangan dalam Islam terwujud dalam konsep jihad. Jihad dimaknai sebagai kesungguhan total dalam mengerahkan seluruh potensi fisik dan nonfisik untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Jihad tidak disempitkan pada perang, melainkan mencakup perjuangan moral, intelektual, sosial, dan spiritual. Ia merupakan manifestasi tertinggi dari iman yang hidup dan bertanggung jawab.
Keutuhan perjuangan jihad menuntut satu sikap batin yang mendasar, yaitu ikhlas. Ikhlas menjadi pengikat antara amal dan tujuan ilahiah, menjaga pejuang dari kepentingan duniawi, pujian, maupun imbalan manusia. Dengan ikhlas, seorang mujahid tidak lupa diri saat berhasil dan tidak tenggelam saat gagal. Ia tetap teguh, rendah hati, dan konsisten dalam perjuangan.
Pada akhirnya, etos perjuangan membentuk pribadi mujahid yang berani, adil, jujur, amanah, sabar, dan istiqomah. Pribadi seperti inilah yang tidak terseret oleh arus zaman, tetapi justru mampu membentuk arah perubahan. Etos perjuangan Islam bukan hanya jalan menuju perubahan sosial, melainkan juga jalan menuju kemuliaan iman dan makna hidup yang utuh.
