Wawasan Ilmu dalam Perspektif Islam: Tauhid sebagai Fondasi Epistemologi

Ilustrasi hitam putih ini menggambarkan wawasan ilmu dalam Islam yang berlandaskan tauhid. Al-Qur’an dan Ka’bah menjadi pusat, dikelilingi aktivitas manusia dalam belajar, beribadah, meneliti alam, membangun keluarga, menegakkan keadilan, dan menjaga keseimbangan semesta. Gambar ini menegaskan bahwa ilmu, iman, dan kehidupan sosial saling terhubung serta bermuara pada penghambaan kepada Allah SWT.

PENA KEBENARAN - Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki struktur paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Kesempurnaan tersebut bukan tanpa tujuan, sebab manusia diciptakan untuk satu tujuan utama, yakni beribadah kepada Allah SWT. Namun demikian, meskipun manusia dianugerahi kesempurnaan fisik dan potensi ruhani, ia lahir ke dunia dalam keadaan tidak mengetahui apa pun. Oleh karena itu, Allah membekali manusia dengan perangkat untuk memperoleh pengetahuan berupa fuad (akal dan hati), pendengaran, serta penglihatan agar manusia mampu memahami tujuan penciptaannya dan bersyukur kepada-Nya.

Allah SWT telah mengaruniakan potensi pengetahuan kepada manusia melalui dua realitas utama, yaitu kenyataan diri manusia dan kenyataan alam semesta. Dari kedua realitas ini lahir pengetahuan tentang manusia dan pengetahuan alam. Dalam keduanya berlaku sunnatullah yang bersifat tetap, konsisten, dan tidak berubah sejak penciptaan hingga hari akhir. Sunnatullah ini mencakup hukum-hukum fisik maupun nonfisik yang mengatur kehidupan manusia dan alam semesta.

Meskipun sama-sama tunduk pada sunnatullah, metode untuk memahami pengetahuan alam fisik dan pengetahuan nonfisik memiliki perbedaan. Pengetahuan alam fisik memiliki tingkat objektivitas tertentu karena sifat alam yang konsisten dan teratur. Oleh sebab itu, siapa pun yang menggunakan akal dan metode ilmiah secara sungguh-sungguh akan memperoleh hasil yang relatif sama, terlepas dari keyakinan dan pandangan hidupnya. Al-Qur’an sendiri banyak mendorong manusia untuk memperhatikan fenomena alam seperti pergantian siang dan malam, peredaran matahari dan bulan, hujan, serta kekayaan laut sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.

Namun, persoalan nilai mulai muncul pada tahap pemanfaatan ilmu alam dalam bentuk teknologi. Pada tahap ini, ilmu tidak lagi bebas nilai karena penerapannya sangat ditentukan oleh pandangan hidup dan sistem keyakinan manusia. Teknologi yang dikembangkan berdasarkan pandangan “manusia sebagai pusat kehidupan” akan berbeda secara mendasar dengan teknologi yang berangkat dari keyakinan “Allah sebagai pusat kehidupan”. Dalam perspektif Islam, aktivitas keilmuan dan penelitian idealnya dimulai dengan niat ibadah kepada Allah SWT.

Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam sistem keilmuan Islam. Kitab suci ini bukan hanya sumber nilai, tetapi juga referensi utama yang mampu berdialog dengan seluruh persoalan kehidupan manusia. Al-Qur’an mendorong manusia untuk menggunakan akal dan hati secara optimal, karena dari sanalah lahir keyakinan, pandangan hidup, serta pola pikir. Kebenaran sejati akan diperoleh apabila proses berpikir manusia diletakkan di bawah bimbingan iman, dengan Al-Qur’an sebagai sumber informasi awal pengetahuan.

Dalam kehidupan sosial, Al-Qur’an menjelaskan bahwa kejayaan suatu masyarakat hanya dapat dicapai apabila masyarakat tersebut mengikuti dienul Islam, sejalan dengan fitrah manusia, serta memiliki kesadaran akan kedudukannya di hadapan Allah. Sebaliknya, kehancuran masyarakat bermula dari dominasi hawa nafsu dan menjadikan manusia sebagai pusat nilai dan tujuan hidup. Sejarah membuktikan bahwa masyarakat yang zalim pasti mengalami kehancuran yang diawali oleh krisis moral, krisis keyakinan, dan penyalahgunaan kekuasaan, kekayaan, serta ilmu pengetahuan.

Selain pengetahuan tentang alam dan masyarakat, terdapat jenis pengetahuan yang berkaitan langsung dengan upaya manusia mengenal Tuhannya. Pengetahuan ini tidak mungkin dicapai hanya dengan rasio semata, melainkan harus bersumber dari wahyu, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Tanpa bimbingan wahyu, akal manusia justru berpotensi tersesat dalam memahami hakikat Tuhan.

Penerimaan terhadap otoritas Al-Qur’an dan Sunnah akan membekali akal dengan kerangka berpikir Islami yang komprehensif. Al-Qur’an menawarkan keluasan tema, kekuatan logika, serta metodologi yang mampu membimbing manusia dalam menghadapi problematika kehidupan dan keilmuan. Dalam kerangka tauhid inilah, epistemologi Islam dibangun secara utuh dan menyeluruh.

Ilmu dalam pandangan Islam merupakan kesatuan pengetahuan tentang Tuhan, manusia, dan alam. Tujuan utama ilmu adalah kebenaran, sementara sumber kebenaran hakiki adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, ilmu harus mengantarkan manusia pada kebahagiaan dunia dan akhirat serta meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula derajat dan kemuliaannya di sisi Allah.

Perbedaan epistemologi ini membedakan ilmu dalam Islam dari ilmu yang dibangun atas dasar ideologi non-Islam. Ilmu konvensional umumnya hanya mengakui kebenaran yang dapat diverifikasi secara empiris dan logis. Sebaliknya, Islam mengakui verifikasi empiris, logis, dan normatif berdasarkan wahyu. Dengan demikian, Islam memandang ilmu sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, bukan terpisah antara agama, sosial, dan alam.

Pada akhirnya, Islam menegaskan bahwa Allah adalah sumber kebenaran dan memerintahkan manusia untuk mempelajari alam dengan akal budi yang dibimbing oleh iman. Puncak perkembangan manusia dan masyarakat hanya dapat dicapai melalui landasan tauhid yang kokoh serta penguasaan ilmu pengetahuan dalam perspektif Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan jalan inilah pencarian kebenaran menemukan arah yang benar dan kesesatan dapat dihindari.

Lebih baru Lebih lama